Tafsiran Amsal 1

Amsal adalah kitab yang ditulus raja paling berhikmat yang pernah ada, yaitu Salomo, anak Daud bin Isai. Dengan kata lain, Salomo adalah cucu Isai. Salomo juga merupakan satu-satunya anak Batsyeba yang tidak dihukum mati oleh Tuhan karena Tuhan kasihan pada Daud dan hendak menjadikan Salomo raja yang sangat berhikmat di bumi. Kitab yang sangat terkenal yang ditulisnya adalah kitab ini. Berikut ini akan ada tafsiran mengenai Amsal pasal yang pertama.

Amsal 1:1 memberitahu kita dengan jelas bahwa Salomo-lah yang menulis kitab ini. Di ayat ke-2 sampai ke-6, dituliskan alasan Salomo menulis kitab ini. Di ayat ke-7, salah satu nasihat terkenalnya yang banyak dijadikan pedoman hidup banyak orang. Artinya “takut akan Tuhan” bukan berarti takut seperti seolah Tuhan adalah orang yang sangat jahat. Bukan itu. Tapi takut juga bisa berarti segan, hormat. Jika kita hormat pada Tuhan, Tuhan akan memberi kita pengetahuan akan jalan terang yang benar, salah satunya dengan Alkitab. Sementara arti orang bodoh menghina hikmat dan didikan sudah hampir sangat jelas. Itu adalah alasan orang yang menjadi bodoh. Karena ia tidak merasa pendidikan dan hikmat itu penting.

Di ayat ke-8, Salomo, mewakili Tuhan Allah, menegaskan bahwa kita harus mendengarkan didikan ayah dan ajaran ibu kita. Maksudnya hampir sangat jelas, yaitu nasihat orangtua kita. Mungkin kita berpikir orangtua yang bukan Kristen mengajarkan hal yang buruk. Di sini tidak ditegaskan semua yang dikatakan orangtua kita harus kita tepati. Kita juga harus menyesuaikannya dulu memang dengan yang ada di Alkitab. Tapi, bagaimanapun, semua orangtua yang normal akan senang jika anaknya ada di jalan yang benar, bukannya tersesat dalam kegelapan.

Di ayat berikutnya, ditegaskan mengapa kita harus menuruti dan memerhatikan nasihat orangtua kita. Karena, didikan orangtua bermanfaat. Mereka lebih punya banyak pengalaman dan sudah hidup lebih lama daripada kita. Orang yang sudah seratus tahun tentunya lebih berpengalaman daripada bayi satu tahun.

Ayat yang ke-10 hingga ke-19 menegaskan bahwa kita tidak boleh ikut di jalan orang berdosa, karena akan merugikan kita sendiri nantinya. Ada sistem tabur-tuai di mana ketika kita melakukan kekejian di hadapan Tuhan, Tuhan akan bertindak adil dan “mengembalikannya” pada kita. Demikian juga jika kita hidup kudus berkenan kepadaNya, maka Allah akan mengaruniakan hidup yang kekal bagi kita.

Ayat 20 dan 21 merumpamakan bahwa hikmat adalah sesuatu yang jelas, yang semua orang bisa rasakan, dengar, dan lihat. Keberadaannya sebetulnya sangat penting dan jelas. Di ayat-ayat berikutnya, hikmat ditujukan untuk orang-orang yang tak berpengalaman supaya mereka mau bertobat dan menyesali kebodohan mereka. Maksudnya kebodohan di sini adalah bodoh karena tahu firman Tuhan namun tidak mau melakukannya. Bukan bodoh secara fisik dan intelektual. Orang yang berhikmat pasti pintar, tetapi orang yang pintar belum tentu berhikmat.

This entry was posted in Tafsiran Alkitab. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s