Don’t Hate Me, Sister

Sesuai permintaan Natasya untuk cerita mengenai keluarga lagi, admin membuat suatu cerita soal keluarga lagi. Cerita ini dulu admin buat sebagai fanfiction (sekarang sudah tidak ada lagi ceritanya) dan kisah utamanya soal hubungan antarsaudara. Kali ini, karakternya pastinya akan admin ubah berikut watak-wataknya. Semuanya murni karya fiktif admin namun inspirasinya tetap dari orang-orang di sekeliling admin.

***

Tania paling sebal dengan adiknya, Tiara. Anak itu pasti selalu buat onar dan dirinya malu di mana pun, kapan pun dan pada siapa pun. Pastinya. Karena Tiara sejak dulu menderita sindrom autis yang membuat keterbelakangan mental. Ia seolah hidup dalam dunianya sendiri.

Sekarang Tania sudah kuliah dan adiknya SMA tingkat akhir. Suatu ketika Tania (terpaksa) berjalan-jalan dengan adiknya di mal untuk membeli hadiah bagi adik Tania. Tania dipaksa orangtuanya karena kedua orangtuanya sibuk mengerjakan pekerjaan mereka. Tania tak habis pikir: Bukannya Tiara sudah SMA? Lalu buat apa ditemani terus? Kapan mandirinya itu anak?

Sudah setengah jam mereka di toko yang sama. Tiara belanjaannya sudah dua tas ukuran sedang. Memangnya yang berulang tahun berapa lusin orang sih? Ia menggerutu dalam hati. Akhirnya Tiara bilang, “Sudah selesai semua.” Tania menghembuskan napas lega. Ia mengajak Tiara ke kafe terdekat. Begitu di kafe, Tiara bilang ia mau ke toko baju di dekat kafe itu sebentar. Tania mengiyakan, sekaligus senang karena bisa bebas dari adiknya itu.

“Hai, Tan,” sapa Yohanes, cowok yang amat ditaksir Tania. “Itu tadi adikmu, ya?”

Tania mengangguk lemah.

“Wah, cantik banget, ya,” gumam Yohanes.

Tania menggerutu dalam hati. Kenapa bukannya dia—yang sudah jadi model majalah berkali-kali—yang dibilang cantik, malah adiknya yang bahkan tidak tau cara berpenampilan yang baik.

“Oke, aku pergi dulu, ya. Bye,” pamit Yohanes sambil lalu.

Kemudian Tiara kembali dengan satu stel baju. Ia tersenyum pada kakaknya dan bertanya dengan polos kenapa wajah kakaknya lebih mendung dari cuaca hari itu.

Tania segera pergi dari kafe itu dengan wajah merah padam, meninggalkan Tiara yang melongo sendirian. Begitu di tempat parkir ia segera naik mobilnya dan melaju pergi.

***

“Jadi Tia kamu tinggal sendiri?!” bentak Diana nyaris pingsan. “Bukannya kamu mestinya yang jaga Tia?!”

Tania menunduk. “Mama harus tau aku kesel banget punya adik seperti itu.”

Diana menggeleng-geleng. “Terus gimana nyari Tia?”

Tania mengangkat bahu cuek dan masuk ke kamarnya.

“Tan! Sopan dikit kenapa, sih?” semprot Diana.

***

“Hahaha,” Felia tertawa. “Adikmu kasihan banget.”

“Tapi reputasimu kan jatuh terus kalo kamu tetep di sebelah adikmu,” tambah Ula.

“Apalagi hati pangeranmu udah mulai diambil,” Kali ini Yana juga ikut-ikutan. “Atau sekalian cowok satu kampus!”

Tania mendengus kesal. “Iya, sih. Habisnya tampangnya Tia kan innocent gitu, ya. Baby face banget jadinya.”

“Gak apa, kalo Tia nggak ada, sainganmu tinggal cewek sekampus yang gak bakal diperhatiin Yohan,” hibur Ula. “Pasti bisa, deh.”

“Huh, kalo aku gak keburu disemprot lagi sama Mama sepulang kuliah,” gerutu Tania.

***

“Pulang dari mana, Tan, kok lama banget?” semprot Diana lagi.

“Ma, capek tau disemprot terus!” seru Tania sambil melengos masuk ke kamarnya.

Di kamar, Tania tiba-tiba tidak sanggup menahan berat tubuhnya. Ia pun jatuh tersungkur. Ketika Diana masuk ke kamar itu, ia langsung syok melihat Tania yang sudah tidak sadarkan diri.

***

Tania ternyata menderita kanker liver akut. Tania bisa sembuh, asal ada donor untuknya. Tapi bagaimana lagi? Setelah dites, kedua orangtuanya tidak bisa menjadi donor. Tania masih setengah sadar saat ini. Ia sendiri berharap mati saja. Toh ia bisa bebas dari adiknya, serta kedua orangtuanya yang lebih care dengan adiknya. Ia yakin tidak ada lagi orang yang menginginkannya.

Keesokan harinya, dokter bilang sudah ada donor yang cocok. Karena kondisi Tania yang makin menurun, operasi dilakukan hari itu juga. Akhirnya Tania bisa sembuh. Liver yang baru cocok dengan tubuhnya.

“Siapa orang yang mendonorkan liver ini?” gumam Tania.

“Liver ini tidak didonorkan, karena tidak boleh mengambil liver orang yang masih hidup. Liver ini didapat dari orang yang sudah meninggal dan namanya tercantum dalam daftar orang yang mau organnya dipakai kalau ia sudah meninggal,” jelas sang dokter. “Kasihan sekali pendonornya. Tadi pagi ia meninggal di dekat sini karena kecelakaan.”

“Siapa orangnya?” tanya Diana.

“Namanya Mutiara Lestari,” jawab dokter itu.

“Tiara?!” seru Diana kaget.

Tania yang masih loading langsung seratus persen on. “Apa?! Tiara?!”

Mutiara Lestari adalah nama lengkap Tiara. Tania tersentak. Ia segera menghambur keluar dari ruangan itu. Jenazah adiknya pasti ada di sekitar situ.

“Sori, Ti! Aku ninggalin kamu sendiri waktu itu!” isaknya dalam hati.

***

Keluarga ini adalah harta berharga dari Tuhan. Sayangilah keluarga kita.

This entry was posted in Kisah Bijak. Bookmark the permalink.

4 Responses to Don’t Hate Me, Sister

  1. Akhirnya pesananku (eh) jadi ya? Kekeke. Nice story, min! Dulu admin ternyata penulis fanfiction, toh? Wah keren tuh!

  2. lena says:

    Aku suka ceritanya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s