‘Kejutan’ di Ibadah Anak

Apakah usia anak-anak tidak akan pernah menjadi teladan? Jawabannya adalah tidak. Tuhan sudah menunjukkan banyak contoh karya-karya hebat anak-anak yang usianya masih belia—bahkan belum remaja—yang menjadi inspirasi bagi banyak umat percaya. Tapi saya ingin menceritakan contoh lainnya.

Saya dipercayakan Tuhan pelayanan di berbagai jenjang ibadah. Ada ibadah yang untuk orang dewasa, ada yang untuk pengusaha, ada yang untuk kaum wanita dewasa hingga manula, lalu ada ibadah untuk anak muda (remaja dan pemuda) hingga ibadah anak-anak mulai usia kelompok bermain (play group) hingga kelas 6 SD.

Pernah, di ibadah untuk orang dewasa, beberapa petugas kebersihan membersihkan potongan kertas yang berceceran di lantai, tapi jemaatnya tetap cuek. Kebanyakan hanya bermain dengan ponsel mereka, namun ada yang sengaja membiarkan para petugas itu membersihkan semuanya.

Di ibadah untuk pengusaha, mereka dengan serius mendengarkan khotbah pendeta. Namun saat pulang, mereka sengaja membuang sampah sembarangan. Sampahnya berupa kertas juga. Para petugas yang ada pun segera membersihkan semuanya. Tidak ada yang peduli.

Di ibadah kaum wanita, kejadiannya kurang-lebih sama. Hanya saja, ditambah ada beberapa anak kecil yang ikut. Sempat ada seorang anak yang menangis, namun semuanya cuek, malah ada yang menatap sinis anak dan sang ibu. Hingga usher harus datang untuk memperbaiki keadaan.

Di ibadah untuk remaja dan pemuda, justru tambah parah. Saat itu ibadah mau dimulai. Para petugas masih belum selesai membersihkan ruangan. Seorang petugas meminta tolong dengan sopan segerombolan remaja untuk minggir sebentar supaya ia bisa membersihkan daerah tempat mereka duduk. Namun remaja-remaja itu cuek saja. Mereka pura-pura asyik dengan ponsel mereka, atau asyik membaca warta. Beberapa malah bergosip dan ada yang ngerasani petugas-petugas di ruangan itu.

Waktu saya menghadiri sebuah ibadah anak, di mana para anak play group hingga kelas 6 SD berkumpul (ada beberapa yang kelas 7 atau 8 SMP, tapi tidak sampai lima anak). Saat itu para kakak (petugas) yang ada sedang membersihkan ruangan, mencopot berbagai isolasi yang digunakan sebagai penanda duduk. Saya ingat, tidak ada satupun yang tidak membantu. Semuanya mencopot isolasi itu bersama para kakak, merapikan karpet, ada juga yang membantu membuangkan sampah ke tempatnya. Semuanya bertanya apa yang bisa mereka lakukan. Jika ditanyai mengapa mereka membantu para kakak, ada yang menjawab dengan polos, “Kan kakaknya kasihan. Jumlahnya dikit. Kalo banyak yang bantu kan cepet selesai.” Ada juga yang menjawab, “Namanya juga anak Tuhan harus bantu orang lain.”

Hati saya terenyuh. Mereka masih anak-anak, tapi mereka tidak hanya bisa mengerti firman Allah, tapi juga melakukannya! Mengapa para golongan yang lebih tua usianya tidak bisa?

Saya sangat bangga pada anak-anak itu. Firman yang mereka terima tiap minggunya tidak hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri, tapi tertanam teguh di hati mereka. ‘Kejutan’ di ibadah anak ini menunjukkan bagaimana Tuhan pun bisa membuat anak-anak yang bahkan masih prasekolah menjadi teladan yang baik bagi kita semua. Seperti kata Tuhan, “Karena anak-anak seperti inilah yang akan memiliki kerajaan sorga.”

This entry was posted in Kesaksian. Bookmark the permalink.

4 Responses to ‘Kejutan’ di Ibadah Anak

  1. Yunichan @YuniqueChan says:

    Amen… Sungguh kesaksian yang memberkati. Anak-anak yang memang menjadi teladan ini patut kita tiru. Mereka seperti Samuel-Samuel Tuhan di masa kini yang memberi contoh yang baik saat semuanya melakukan hal yang tidak baik.

  2. mimin shalooommm bagus loh kesaksiannyaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s