Kumpulan Kisah Bijak Bagian 2

KISAH 5

HIDUP YANG HARUS DISYUKURI

 

Tomi sudah bosan dengan hidupnya. Tiap harinya selalu diisi dengan suara omelan istrinya, rengekan anak kembarnya, dan ketidaktaatan para pegawainya.

 

Sulit dipercaya bahwa Tomi adalah pengusaha sukses yang memiliki kehidupan seperti itu.

 

Karena depresi, ia datang pada ayah tirinya suatu hari. Ayah tirinya menjual berbagai obat mulai obat herbal sampai obat anestesi yang diperlukan para dokter.

 

“Yah, aku bosan dengan hidupku,” aku Tomi. “Apa ada obat racun yang bisa membunuhku secepatnya?”

 

Ayah tirinya yang bijak itu tersenyum. “Pikirkan dua kali, Tomi. Jika tidak cukup, tiga kali. Jika belum cukup, empat kali. Dan seterusnya. Hidup ini harus disyukuri.”

 

“Aku sudah bosan, Ayah.” Tomi merengek seperti batita, “Jikapun tidak ada ramuan bunuh diri, maukah kau membuatkannya untukku?”

 

“Ikut aku, anakku,” ajak ayahnya, dan Tomi pun menurut.

 

Ayah tirinya itu memberi sebuah botol kecil untuk Tomi. “Setengah besok pagi dan setengah lagi besok sore.”

 

Tomi menerimanya dengan girang. “Terima kasih, ayah.”

 

Keesokan paginya Tomi meminum isi botol itu. Dengan keyakinan bahwa penderitaannya akan segera berakhir, ia memutuskan untuk berbuat sebaik-baiknya pada semua orang yang ditemuinya hari ini.

 

Pertama keluarga intinya. Keluarga intinya itu langsung heran dengan perubahan drastisnya. Pertama istrinya yang kaget dengan rajinnya Tomi membantunya menyiapkan sarapan. Namun ia hanya tersenyum dan menyimpan perkara itu dalam hatinya. Kedua anak-anaknya. Keduanya heran mengapa ayah mereka yang biasanya temperamental langsung melunak pagi itu. Di saat mereka kesulitan menali sepatu mereka, Tomi dengan tanggap langsung membantu keduanya. Saat ia mau berangkat kerja, kedua anak dan istrinya memeluknya dan mengucapkan selamat tinggal dengan hangat.

 

Tomi tersenyum dan berangkat kerja. Ia datang ke kantor dan berlaku ramah pada setiap pegawainya. Setiap pegawainya mengiranya baru tersambar petir hingga pikirannya kacau. Setiap pegawainya bertambah kaget ketika Tomi membagi-bagikan gaji para pegawai itu dua kali lipat dari semestinya. Semestinya uang yang mereka terima didiskon oleh Tomi. Para pekerja itupun tidak mau mengecewakan Tomi. Mereka bekerja dengan giat. Hari itu juga, klien perusahaan Tomi bertambah dua kali lipat.

 

Saat tiba di rumah pada sore hari Tomi dilanda dilema. Ia memegang botol racun itu dengan perasaan kacau.

 

Kehidupannya yang seharusnya memang disyukuri seperti kata ayah tirinya ternyata menjadi kenyataan. Ternyata hidup ini begitu indah jika kita saling mengasihi.

 

Kemudian ponselnya berbunyi dan ia segera mengangkatnya, “Ayah? Ada apa Ayah telepon?”

 

“Untuk mengecek sesuatu, Tomi,” balas ayahnya dari ujung sana. “Apa kamu jadi meminum racunnya?”

 

“Tidak, ayah.” Tomi terisak. “Aku sudah menemukan kembali hidupku. Hidup yang selalu harus disyukuri.”

 

“Baguslah kalau begitu, Tomi. Selamat.” Tomi punya keyakinan kuat bahwa ayahnya sedang tersenyum di ujung sana. “Dan buang saja botol itu. Isinya hanya air mineral biasa.”

 

KISAH 6

HADIAH DARI PAPAKU

 

Jujur saja, aku malu pada papaku.

 

Di saat ulang tahunku yang kelima belas, ia menjemputku waktu pulang sekolah dan memelukku erat-erat hingga teman-temanku mempermalukanku. Saat di rumah, aku dibelikannya tas Barbie jadul yang sudah ketinggalan zaman! Karena Mama menyarankanku memakainya ke sekolah supaya tidak melukai perasaan Papa, tetap saja, aku menjadi buah bibir anak-anak di sekolahku!

 

Ulang tahunku yang keenam belas—tahun lalu, tepatnya—Papa tidak “selebay” dulu. Sepulang dari sekolah, aku langsung menghambur ke dalam mobil. Aku duduk di bagian belakang seakan Papa hanya sopir.

 

Memang sih, melanggar ajaran yang diturunkan di keluargaku—dan mungkin juga keluarga-keluarga lainnya—tapi Papa toh hanya diam saja. Tepatnya, belakangan itu Papa diam terus.

 

Hadiah Papa pun menyenangkan. Tas Miu Miu! Asli dari Eropa, kalau tidak salah. Papa orangnya memang sering berpergian karena tugasnya sebagai bos di kantornya. Mungkin kalian bertanya bagaimana ia bisa begitu profesional di bidang pekerjaannya tapi mengurus putri semata wayangnya—ya, itu aku—saja seperti lupa usia putrinya sendiri.

 

Nah, itu pertanyaan yang juga kulontarkan hingga kini.

 

Besok adalah hari ulang tahunku yang ketujuh belas. Sweet seventeen! Salah satu usia emas seorang gadis yang biasanya mesti dinanti-nantikan kaum Hawa.

 

Biasanya, orang sudah pacaran di usia emas ini. Tapi aku, ya jelas belum! Tepatnya, belum bisa. Papa selalu melarangku. Mama hanya mengikuti kata Papa, meski katanya aku sudah cukup dewasa untuk mulai punya hubungan khusus dengan cowok. Kata Papa, kalo sudah kerja aja ya pacarannya. Aisshhhh. Nasehat konyol macam apa itu?!

 

Aku memejamkan mata, membayangkan apa yang kira-kira akan terjadi besok. Besok adalah hari libur nasional, sehingga aku tak kan masuk sekolah. Tapi toh, beberapa sahabatku dan juga beberapa saudara sepupu akan tetap mengirimiku hadiah. Omonganku sudah ngelantur banget. Kembali ke topik. Pokoknya, aku hanya bisa berharap supaya besok Papa ngga bakal overakting kaya aku barusan pulang selama tujuh belas tahun tidak ketemu.

 

Esok harinya, aku bangun dengan firasat yang agak buruk.

 

Aku segera keluar dari kamarku dan pergi ke dapur, menyapa Mama.

 

Happy birthday, Carla,” kata Mama tersenyum sambil memberiku kado.

 

Thank you, Ma.” Aku menyengir. “Boleh aku buka?”

 

Mama mengangguk.

 

Aku segera membuka bungkusnya dan menemukan kalung terbuat dari emas putih yang sangat indah. Aku segera memeluk Mama dan menggumamkan kata “terima kasih”.

 

Setelah memakai kalung itu, Mama membimbingku ke kamar tidurnya dan Papa. Ia membungkuk dan mengambil suatu kotak dari dalam laci. Ia pun menyodorkannya padaku dan menyuruhku membukanya.

 

Aku membuka kotak itu dan menemukan sebuah surat. Aku pun membacanya.

 

Anakku Carla,

 

Papa minta maaf Carla jika selama ini Papa selalu mengecewakanmu. Harus Carla ketahui bahwa Papa sebenernya bukan papa kandungmu, melainkan papa tirimu. Namun Papa tetap mencintaimu seperti anak kandung sendiri. Happy sweet seventeen birthday, my daughter. Semoga kamu menyukai hadiah dari Papa. Papa sekarang harus berada selama beberapa tahun di Jepang. Semoga saat Papa pulang Papa sudah bisa seperti yang Carla mau.

 

Papa

 

Aku menatap isi kotak itu dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Aku ingin menangis rasanya. Kunci mobil! Ya, sudah lama aku menginginkan mobil dan Papa berkata aku harus bersabar. Karena belum dibuatkan SIM, Papa pun mengajariku trik-trik dasar mobil yang cepat kukuasai.

 

Mama menyuruhku ke halaman depan di mana sudah ada mobil—hadiah dari Papa itu. Aku merasa aku sudah jadi anak durhaka. Papa begitu sayang padaku. Hanya saja caranya mengungkapkan cintanya berbeda dengan yang kuinginkan.

 

Aku menunggu bertahun-tahun sampai Papa pulang.

 

Suatu ketika, pintu kamarku diketuk saat hari ulang tahunku yang kedua puluh satu. Aku segera membukakannya dan menjerit senang saat mengetahui bahwa Papa yang datang. Aku segera merangkulnya, meminta maaf, dan berkata terima kasih untuk semua hadiahnya padaku. Bukan hanya secara materi, tapi juga kasih sayangnya.

 

Papa merangkulku balik. “Kamu suka hadiahnya?”

 

Aku mengangguk. “Pa, kalo ada waktu aku ajak jalan-jalan, mau?”

 

Papa pun mengangguk. “Ayo.”

 

Dan begitulah. Kita tak akan pernah bisa membalas kasih sayang orangtua kita, tapi dengan menghargai mereka pun, sudah seperti anugerah terindah bagi mereka.

 

KISAH 7

SETANGKAI BUNGA PERHATIAN

 

Kita mengenal sosok Bunda Teresa yang baik hati. Ia pernah mendapatkan suatu pengalaman berharga saat mengunjungi sebuah panti jompo. Panti jompo itu tergolong maju, fasilitatornya bahkan sudah memberikan TV sebagai hiburan untuk para manusia lanjut usia (manula) yang ada di sana. Namun, tiap akhir pekan, yang mereka perhatikan bukanlah TV (dan mereka juga bukan diperhatikan TV alias ketiduran di hadapan TV) melainkan pintu masuk yang ada di ruangan itu.

 

Apa yang mereka harapkan? Anak-anak kecil, orang dewasa, pokoknya semua orang yang rela mencurahkan perhatian untuknya! Yang mereka mau hanyalah itu. Mereka hanya ingin setangkai bunga perhatian dari orang-orang. Sudahkah kita memerhatikan keluarga kita hari ini? Apa kita mengetahui kepedihan hati orang-orang di luar sana? Setangkai bunga perhatian yang kita beri pada orang lain akan menyenangkan hati mereka, diri kita sendiri, dan bahkan Tuhan.

 

KISAH 8

MOBIL YANG TERCORET

 

Suatu ketika seorang ayah baru pulang dari showroom mobil dengan wajah bahagia. Ia melihat anaknya yang sudah kelas 4 SD menatapnya penuh kebahagiaan.

 

“Akhirnya, Pa! Kita punya mobil yang bagus,” kata anak itu dengan mata berbinar-binar sambil memasuki mobil dengan ayahnya.

 

Ayahnya tersenyum. Memang, sudah lama keluarga yang hanya terdiri dari ayah dan anak itu menginginkan sebuah mobil yang lebih bagus. Sebelumnya mobil yang mereka punya adalah mobil butut yang akhirnya rusak juga.

 

Beberapa bulan setelah itu, sang anak menginjak kelas 5 SD. Ia sedang menggambar petak-petak engkle untuknya dan teman-temannya bermain. Tanpa sengaja, kapur yang ia pegang terlempar dan mencoreng mobil ayahnya!

 

Tepat saat itu ayahnya keluar dari rumah. Semua temannya langsung kabur dan meninggalkannya sendirian. Sang anak tidak mengerti harus apa. Lidahnya kelu. Ia hanya bisa berkata lirih, “Maafkan aku, Yah…”

 

Sang ayah menghampiri sang anak dan tersenyum kecil. “Nggak papa, namanya juga barang fana. Ngga ada yang sempurna.”

 

Tahun demi tahun berlalu. Sang anak kini diwarisi mobil tersebut. Anak itu memerhatikan tempat bekas coretan kapurnya dulu. Memang sudah hilang sama sekali, tapi ia tak akan pernah lupa bagaimana ayahnya mengampuninya saat ia melakukan kesalahan.

This entry was posted in Kisah Bijak. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s