Kasih Sayang Keluarga

Keluarga adalah permata dari Tuhan.
Keluarga ialah titipan yang sangat berharga.
Kita harus menghargai kasih sayang keluarga.
Dari keluarga kita mengenal cinta.
Dari keluarga kita megenai kasih.
Dari keluarga kita mengenal tangis.
Dari keluarga kita melihat dunia.
Keluarga adalah perpanjangan tangan Tuhan.
Karena itu kasihilah keluargamu.

Zoe memeluk kedua orangtuanya bergantian. “Doakan Zoey bisa mencapai cita-cita Zoey sebagai artis, Pa, Ma.”

Kedua orangtuanya mengangguk dengan air mata berlinang karena harus melepas putri mereka.

Zoe juga memeluk adik kembarnya, Joe. “Dah, Joey.”

“Dah, Zoey,” balas Joe dengan suara bergetar. “Kirimlah surat atau setidaknya meneleponlah sesekali.”

“Pasti, Joey.” Zoe mengangguk-angguk. “Zoey berangkat dulu, semuanya.”

***

Terhitung sudah tiga tahun sejak Zoe meninggalkan kampung halamannya. Pada tahun pertama dan kedua ia selalu mengirimi surat dua hingga tiga kali dalam sebulan. Tapi tahun ini belum tentu satu trimester sekali ia akan mengirim surat. Jika pada tahun pertama dan kedua ia masih sempat menelepon selama beberapa minggu sekali, pada tahun ketiga ini ia bahkan belum menelepon sama sekali. Bahkan, dulu ia rajin mengirimi uang meskipun tidak diminta. Tapi sekarang, sepeser pun tidak mau direlakannya untuk keluarganya yang sekarat karena kelaparan di sisi lain negara itu.

Dan ia berkomitmen kuat untuk menyetopkan komunikasinya dengan keluarganya.

Kini ia sudah menjadi bintang terkenal. Tidak ada yang tidak mengetahui penyanyi naik daun, artis papan atas dan model sekaliber Zoe Limandjaja. Bahkan, supaya namanya terkesan lebih menarik Zoe mengganti nama belakangnya menjadi Zoe Patrick hingga terkadang orang menyebutnya ZP.

Suatu ketika, beberapa model kelas atas yang selevel dengan dirinya berkunjung ke rumahnya. Mereka saling berbagi gosip terbaru dengan akrab.

Kemudian terdengar bel pintu. Zoe sebagai pemilik rumah segera membukakan pintu dan melihat sosok laki-laki kurus dengan pakaian kucel. Bola matanya menyiratkan sinar rindu. Wajahnya mirip sekali dengan Zoe. Tidak salah lagi, dialah Joe, saudara kembarnya.

“Zoey, kami merindukanmu,” isak Joe, “maukah kamu kembali ke rumah meski hanya sekali?”

“Siapa dia, Zoey?” tanya seorang model dari dalam, “saudaramu?”

Zoey berusaha menekan gengsinya kuat-kuat. “Tidak, Lily. Dia orang gila yang harus disingkirkan,” ucapnya ketus sambil menutup kembali pintu rumahnya.

***

Sambil menahan dingin Joe menutup jendela itu beserta tirainya. Kemudian ia membuatkan teh hangat untuk kedua orangtuanya. “Sabar, ya, Ma, Pa. Sepertinya Zoey nggak mengenali Joey.”

“Mungkin aja.” Mamanya mengangguk. “Mama aja kadang-kadang lupa mukamu, Joey.”

Joe tersenyum miris karena orangtuanya berusaha tetap berpikir positif. Ia tahu sebenarnya Zoe mengenali dirinya. Namun ia juga tidak bisa menyangkal bahwa sekarang Zoe bergengsi sangat tinggi. Ia pasti malu mengakui asal keluarganya yang tidak mapan.

“Kita tulis surat aja, Ma, Pa,” usul Joe, yang langsung disetujui kedua orangtuanya.

Tapi sepertinya mereka tidak bisa berharap terlalu banyak. Karena sudah hampir dua puluh surat dikirim dan semuanya pasti dikembalikan ke pengirimnya.

Sesuai usul Joe, kali ini mereka akan langsung mendatangi Zoe di kota besar itu. Joe tidak berharap banyak mengenai kedatangan ini. Bahkan ia cenderung punya firasat buruk.

“Positive thinking, Joey,” kata mamanya bijak.

Joe mengangguk lemah.

“Kali ini biar Papa-Mama ikut langsung ke apartemennya,” kata papanya, “di mana sih apartemennya?”

Joe pun menunjukkan lokasi apartemen saudari kembarnya itu. Dengan tekad yang sudah bulat, kedua orangtuanya pun menekan bel pintu flat tersebut.

Dan ketika pintu dibuka, nampaklah Zoe yang langsung membanting pintu keras-keras sebelum salah satu di antara mereka sempat berkata apa-apa.

***

“Tadi bukan Zoey kita, kan?” tanya mamanya penuh harap.

Joe menghembuskan napas berat. “Sekarang dia sudah menjadi Nona Besar Zoe Patrick alias ZP.”

“Siapa itu Patrick?” tanya papanya.

Joe mengangkat bahu lemah. “Namanya yang sekarang. Di Wikipedia ia berkata nama aslinya—Zoe Limandjaja—terlalu kuno.”

“Kuno?” Papanya mengangkat alis. “Berani-beraninya nama keluarga kita dibilangnya kuno!”

Joe menghembuskan napas panjang. “Dia bukan Zoey yang kita kenal lagi, Pa. Mendingan kita langsung pulang ke kampung aja, Pa, Ma. Buat apa belani Zoey lagi?”

“Oke, kita segera berkemas lalu besok pulang,” putus papanya.

Tiba-tiba Joe meremas dada kirinya. “Kenapa harus kambuh sekarang?” rintihnya.

“Joey!!!” seru kedua orangtuanya panik ketika Joe tiba-tiba tak sadarkan diri.

***

Untung Joe tergabung di asuransi sehingga biaya pengobatannya di kota itu sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan asuransi. Zoe tidak tahu bahwa Joe menderita sakit jantung sejak beberapa bulan setelah kepergiannya. Joe ingin mengatakannya langsung pada Zoe namun karena tahu kesibukan gadis itu, Joe tidak ingin membebani kembarannya itu lebih lagi.

Tapi sekarang, mau ia sakit jantung atau tidak, sepertinya Zoey tidak akan peduli padanya.

Joe menyandarkan kepalanya pada bantal di kasur itu. Ia sangat merindukan sosok Zoe yang dulu selalu bercanda dan main kejar-kejaran dengannya. Tapi sekarang, yang ada hanyalah Zoe yang selalu menyingkirkannya dan orangtuanya.

***

Sambil menari mengikuti irama, Zoe meminum gelas berisi gin dan tonic. Juga ia menghisap rokok dan menyebulkan asapnya. Inilah dunianya sekarang. Dunia glamornya.

“Ada yang melihat Nona ZP?” tanya seseorang.

Zoe menoleh. “Ada apa?”

“Ada telepon untukmu.” Orang itu menyodorkan sebuah telepon.

Zoe menerimanya. “Halo?”

“Apa ini Nona Zoe Limandjaja—maksud saya, Zoe Patrick?” Suara seorang wanita terdengar dari ujung sana.

“Ya,” sahut Zoe, “siapa ini?”

“Kammi dari Rumah Sakit Umum, ingin memberitahukan bahwa seorang yang mengaku saudara kembar anda—namanya Joe Limandjaja kini sedang berada di ICU karena penyakit jantungnya yang kambuh.”

“APA???” Zoe membuat semua orang di diskotik itu nyaris mendapat serangan jantung. “JOEY PUNYA PENYAKIT JANTUNG? KENAPA IA TIDAK BILANG?”

Di ujung sana sepertinya wanita itu sedang menggaruk-garuk kepalanya. “Dia memang menderita penyakit jantung sejak bertahun-tahun lalu, Nona. Jika anda mau mengunjunginya silakan datang ke tempat kami, dia berada di ruang tujuh.”

“Err—oke, terima kasih infonya.” Zoe mematikan sambungan.

Tuhan, aku mohon, sempatkanlah aku meminta maaf pada mereka! Ia berlari secepat kilat dan menyetop taksi ke rumah sakit itu. Sebuah pemandangan yang tidak lazim bagi seorang Zoe Patrick untuk berlarian panik di jalanan. Lebih parah sepertinya dari presiden yang ketahuan tidur dengan memeluk sebuah boneka beruang.

Sesampainya di rumah sakit ia segera menghambur masuk ke ruang tujuh. Dan matanya bertabrakan dengan tatapan bahagia saudara kembarnya dan orangtuanya.

***

“Kami kira kamu tak kan kembali, Zoey.” Mamanya memeluknya erat. “Kamu masih ingat kami, kan?”

Waduk air mata Zoe pecah. “Aku ingat Papa-Mama! Aku ingat Joey! Maafin, Zoey, semuanya. Zoey bukan Zoey yang kalian kenal dulu. Zoey bahkan nggak tau Joey menderita penyakit jantung.”

“Memang aku yang keras kepala kok nggak mau ngasitau,” balas Joe jahil, seperti Joe yang Zoe ingat.

Zoey melepaskan pelukan mamanya dan memeluk saudara kembarnya itu. “Sejak kapan kamu sakit?”

“Beberapa bulan setelah kamu pergi,” sahut Joe ringan, seakan-akan penyakit jantung hanyalah penyakit flu ringan baginya.

“Papa, Mama, Joey, izinin Zoey tebus kesalahan Zoey yang udah kelewatan ini,” isak Zoe. “Zoey mau bertobat, Papa, Mama. Zoey akan rajin ke gereja seperti dulu. Tolong maafkan Zoey.”

Kedua orangtuanya memeluk Zoe. “Kami sudah memaafkanmu, Zoey.”

***

Zoey mendorongkan kursi roda Joey ke dalam gereja. Kini ia tidak lagi menjadi penyanyi pop, model atau aktris. Ia melayani penuh waktu di gereja sebagai Worship Leader (WL) atau pemain musik.

Keluarganya duduk di baris pertama sederet dengan pastur dan pelayan Tuhan lainnya. Sementara Zoe maju ke depan dan mulai memainkan piano sambil menyanyikan lagu Keluargaku Surgaku ciptaan Ronny Daud Simeon.

Joe meneteskan air mata saat melihat saudari kembarnya mulai bernyanyi dan memainkan piano dengan lincah. Kedua orangtuanya yang berada di kanan-kirinya merangkulnya. Dan ia pun memejamkan mata dengan tenang.

Begitu selesai Zoe mendapat sambutan meriah. Ia tersenyum dan menuruni panggung, mendapati bahwa mata Joe sudah tertutup untuk selamanya dalam rangkulan kedua orangtuanya.

***

Zoe meletakkan bunga mawar aneka warna di atas makam Joe. Setelah acara pemakaman selesai ia dan kedua orangtuanya pun kembali ke rumah mereka. Zoe kini sudah membelikan apartemen bagus untuk kedua orangtuanya dan dirinya sendiri. Ia tak mau lagi berpisah dengan keluarganya, harta sorgawi yang dititipkan Tuhan kepadanya itu.

Sampai berapapun usia kita kita pasti akan tetap membutuhkan keluarga kita. Siapapun dan bagaimanapun keadaan mereka, mereka adalah titipan Tuhan yang sangat berharga. Kita harus selalu menghargai kasih sayang mereka.

Contact Person:

E-mail : pesantuhanyesus@gmail.com
Twitter : @PesanTuhan_

This entry was posted in Kisah Bijak. Bookmark the permalink.

8 Responses to Kasih Sayang Keluarga

  1. Yunichan says:

    Keluarga memang adalah harta benda yang tak ternilai🙂

  2. Natasya says:

    Ceritanya seakan menemplak ak min,,,,, hiks bgs amanatnya ada lg ga min crta keluarga?😀

  3. Verry says:

    Min kpn2 upload lirik.y Keluargaku Surgaku yaaa….sm Sentuh Hatiku yg nyanyi Maria Shandi aja, …. Ato artis lainnya terserah de min🙂 trs jg lgu rohani lain kyk Hosanna Hillsong, dsb, jg lgu rohani True Worshipper😀 intinya upload smw lirik lgu rohani yg memberkati mimin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s