Kumpulan Kisah Bagian 1

Kisah 1
Jangan Buru-Buru Negative Thinking

Rebecca berusaha tetap diam ketika semua pasang mata menatapinya dengan tatapan kasihan. Dalam hatinya ada kekuatan besar yang menyerangnya dari dalam. Ia ingin menangis, tapi tidak bisa. Ia terlihat tetap kuat di depan semua teman kampusnya. Dalam hatinya ia mengancam dirinya sendiri, “Jika kamu menangis, berarti kamu lebih lemah dari serbuk sari yang begitu mudah diombang-ambingkan angin.”

Seorang temannya bertanya, “Rebecca, memangnya kau tidak sakit hati melihat pacarmu Joey bersama gadis lain?”

Seorang yang lain menyeletuk, “Kasihan Rebecca. Kata Joey waktu itu dia hanya ingin menjemput seseorang di bandara, tapi ternyata seseorang itu seorang gadis yang selalu ada bersamanya hingga kini.”

Dalam hati Rebecca ingin memarahi setiap orang yang ada di situ. Ucapan mereka membuatnya makin terpuruk saja.

Kemudian nampaklah pacarnya, Joey, datang menyusuri koridor kampus dengan senyuman khasnya. “Hai, Rebecca,” sapanya hangat sambil merangkul Rebecca yang sudah siap menangis.

Setiap orang yang ada di sana berbisik-bisik curiga.

Rebecca menoleh ke arah pacarnya. “Apa?”

“Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang,” sahut Joey santai sambil menarik lengan Rebecca.

Rebecca menunduk ketika dirinya ia biarkan ditarik oleh Joey. Setiap orang yang ia lewati seakan siap mencemooh pacarnya.

Kemudian Joey berhenti berjalan. Rebecca pun turut berhenti. Ia mendongak dan melihat seorang gadis yang lebih muda beberapa tahun darinya. Rambutnya kecoklatan dan dikuncir satu. Senyumnya mengembang ketika melihat Rebecca.

Dengan bangga Joey memperkenalkan kedua gadis itu, “Anne, ini Rebecca, pacarku yang kuceritakan padamu. Dan Rebecca, ini Anne, adik perempuanku.”

Jangan cepat membuat asumsi tanpa bukti, karena tidak semuanya selalu seperti yang kita pikirkan.

Kisah 2
Uang Seratus Ribuan

Seorang pendeta menunjukkan selembar uang seratus ribuan miliknya kepada para jemaat yang usianya rata-rata masih anak-anak. Ia melambai-lambaikan lembaran uang itu dengan tangan kanannya dan bertanya, “Apa kalian semua mau uang ini?”

Anak-anak pun menjawab serentak, “Mau!”

Kemudian pendeta itu melipat-lipat kertas itu dan menunjukkannya kembali. Ia bertanya, “Ada yang masih mau uang ini?”

Jawabannya pun bertambah keras, “Mau, Pak!”

Ia pun menginjak-injak uang itu dan menunjukkannya kembali. Ia akhirnya bertanya untuk terakhir kalinya, “Apa kalian masih berminat dengan uang yang sudah kucel semua ini?”

Ternyata justru semuanya tetap menjawab, “Mau, Pak Pendeta!”

“Kenapa kalian masih mau uang ini?” tanya pendeta itu.

“Meskipun sudah kotor dan terlipat-lipat, tapi nilainya tetap ada di dalam uang itu,” jawab para jemaat, serentak.

Itulah Tuhan kita. Meskipun banyak dosa menyelimuti kita, tapi ia tetap memandang kita bernilai.

Kisah 3
Bantuan “Kecil” yang Bermanfaat Besar

Lissie berharap tahun ini ia bisa mendapat hadiah natal yang indah. Sebagai seorang gadis dari keluarga yang pas-pasan, ia tidak bisa berharap orangtuanya bakal membelikannya tas Coco Chanel untuknya.

Ia berjalan menyusuri trotoar sempit yang sepi itu. kotanya, London, memang indah. Saljunya putih sekali. Big Ben yang megah dan kokoh dengan bunyi dentangan yang indah. Atmosfer natal yang ceria. Hanya saja, ia tidak mungkin berharap di pagi hari natal ia bakal dikejutkan oleh kedua orangtuanya yang berkata, “Kami membelikanmu selusin meter hadiah natal, sayang!”

Ia mengenyahkan bayangan itu dari pikirannya yang mendadak kacau belakangan ini.

Kemudian langkahnya terhenti ketika melihat seorang gadis kecil meringkuk di bawah sebuah pohon.

Ia mendekati gadis itu yang ternyata adalah adik temannya yang sangat kejam, Nancy. Nama gadis itu kalau tidak salah Louisa.

“Sedang apa di sini, Louisa?” tanya Lissie.

“Uang Kakak tadi terjatuh waktu kami menelusuri trotoar ini,” jelas Louisa. “Jika belum ketemu aku tidak boleh pulang.”

Hati Lissie terenyuh. “Berapa nominalnya?”

“Enam pound, Elisabeth,” jelas Louisa.

Lissie merogoh sakunya dan menyerahkan nominal uang yang sama dengan uang Nancy yang hilang itu. Hanya itu uang yang dimilikinya.

“Terima kasih, Lissie,” kata Louisa sambil tersenyum pucat. “Kau malaikat penyelamat.”

Lissie hanya membalas dengan senyum dan berjalan pulang ke apartemen keluarganya.

Keesokan harinya ia bangun dengan tubuh yang segar. Pagi itu adalah pagi natal. Aneh sekali. Biasanya di kamar itu kedua adik kembarnya masih tidur. Tapi, Lissie tidak dapat menemukan keduanya.

Ia berjalan ke ruang makan. Tercium aroma ayam panggang yang hanya bisa diciumnya dari restoran mahal di jalanan situ. Ia bertanya-tanya dari mana asal bau itu.

Kemudian nampaklah ibunya, membawa senampan ayam panggang. Juga kedua adiknya, di setiap tangan mereka ada secangkir coklat panas dengan dua butir marshmallow lezat. Tampak juga ayahnya membawa poci dengan nampan berisi beberapa gelas antik dan juga segelas coklat panas.

“Lissie, ayo cepat makan,” ajak ibunya. “Setelah sarapan kita akan pindah ke apartemen impian kita.”

“Apa?” tanya Lissie tak percaya.

“Ayah dan Ibu mendapatkan pekerjaan baru yang jauh lebih baik kemarin malam,” jelas ayahnya sambil tersenyum. “Ayah dan Ibu Nancy yang menawarkannya.”

***

Bertahun-tahun setelah pindah, Lissie pun kini duduk di bangku kuliah. Ia tersenyum ketika ia dan keluarganya keluar dari gereja.

Ternyata Louisa sudah menunggunya. Ia tersenyum pula ke arah Lissie yang menatapnya bingung.

“Lama tidak ketemu, Lissie,” sapa Louisa berbasa-basi. “Bagaimana kabarmu?”

“Yeah, aku baik.” Lissie menghampiri Louisa. “Kau sendiri?”

“Cukup baik,” balas Louisa dengan nada sedih yang hampir tidak terasa.

“Ada apa?” tanya Lissie, menyadari nada sedih itu.

“Ingat Nancy?” tanya Louisa, dan ketika Lissie mengangguk ia melanjutkan, “Kasihan Nancy. Ternyata sejak kecil ia mengidap tumor. Karena stres tanpa sepengetahuan kami ia mengonsumsi narkoba dalam durasi yang cukup lama.”

Lissie terdiam.

Louisa menarik napas dan melanjutkan, “Ketika aku pulang dengan uang yang kauberikan itu, ia sudah terbaring lemah di kamarnya. Dokter menggeleng dan mengatakan ia sudah tidak bisa apa-apa. Saat aku memberikan uangnya, matanya berbinar sedikit dan ia bertanya dari mana aku mendapatkannya, dan aku menyebut namamu. Ia tersenyum dan berkata, ‘Sampaikan terima kasihku padanya,’ lalu meninggal dengan tenang di ranjangnya.”

Lissie terenyak mendengar penuturan adik temannya itu. Begitupula kedua orangtuanya dan adik kembarnya.

“Terima kasih, Lissie,” kata Louisa sambil memeluk penolongnya di masa lalu itu. “Bantuanmu sangat berarti bagi kakakku saat itu. Ia paling gila kalau uangnya hilang. Kurasa sulit membalas budimu.”

Lissie tersenyum. Dalam hatinya ia berkata: Terima kasih Tuhan, karena sudah memberikanku suatu pelajaran berharga yang tak akan kulupakan.

Mungkin bantuan yang kita berikan pada orang lain kelihatannya “kecil” dan tak bermakna. Tapi, jika kita berikan dengan tulus bisa menyentuh hati orang yang kita tolong dan juga hati Bapa kita.

Kisah 4
Arti Kejujuran (Testimony/Kesaksian)

Ada satu ketika waktu saya menerima hasil sebuah ulangan harian.

Ulangannya sangat sulit bagi saya dan (untungnya) saya mendapat nilai yang lolos dari standar kelulusan minimal (SKM). Tapi kemudian satu soal menampakkan jawaban saya yang tidak dicoret, dalam arti, salah dibetulkan. Saya bingung—sempat dilema—apa yang harus saya lakukan.

Pertimbangan-pertimbangan akan tindakan saya muncul dan berputar di benak saya. Jika saya menunjukkannya pada guru saya, maka nilai saya bisa makin anjlok, bahkan bukan tidak mungkin tidak lolos SKM. (Jumlah soalnya waktu itu cukup sedikit, sekitar 18-19 butir.) Tapi jika tidak, maka saya berdosa. Saya mendapat nilai yang semestinya tidak saya dapatkan.

Akhirnya saya berjalan perlahan ke guru yang sedang memeriksa ulangan siswa lain. Saya memanggilnya dan menunjukkan kesalahan saya yang tidak dicoret itu. Ia mengambil ulangan itu dan saya sudah menyiapkan mental jika ulangan saya bakal lebih jelek lagi.

Namun, bukan itu yang terjadi. Ia tidak mencoretnya! Malahan, ia menulis di sebelah jawaban saya yang salah itu dengan tulisan:

Kejujuran.

Kemudian ia menyerahkan ulangan saya kembali dan berkata sambil tersenyum, “Terima kasih ya sudah jujur pada saya.”

Saya mendapat pelajaran berharga. Bahwa arti kejujuran bagi orang yang memerlukannya sangatlah penting. Tuhan mau tiap anaknya jujur meski ‘rugi’ ketimbang bohong tapi ‘untung’.

Testimony: admin

Ada kesaksian/kisah bijak yang mau di-sharing? Kirim ke pesantuhanyesus@gmail.com untuk pertanyaan T&J/Q&A mention ke @PesanTuhan_ atau kirim ke e-mail tersebut.

Contact Person:
pesantuhanyesus@gmail.com
@PesanTuhan_ (mention untuk di-follow back)

This entry was posted in Kisah Bijak. Bookmark the permalink.

4 Responses to Kumpulan Kisah Bagian 1

  1. Shania says:

    Yang cerita pertama setengah anekdot ya min? :)) lucuuuu tp jg bermakna…

    • Iya🙂 memang admin sengaja buat setengah anekdot, tapi tetep bermakna.

      • Natasya says:

        Setuju! Rada ngakak (banget benernyaaa) pas baca itu cerita, wkwkwkk rsnya sesuatu banget, trs yg uang” itu jg keren, persis banget gitu cara Tuhan liat kta….dia ga liat dosa kita tp nilai kita…..

      • Ya! Benar, nilai kita tetap sama di mata Tuhan sebagai biji mata-Nya yang mulia. Dosa tidak bisa menutupi identitas kita yang sebenarnya di hadapan Tuhan. Pokoknya bagi Tuhan kita harta kesayangannya, titik, kata Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s