Tuhan Punya Rencana (Kumpulan Kisah)

Kisah 1
Sinyal Asap
Suatu ketika sebuah kapal feri mengalami badai di laut hingga karam. Hanya satu orang yang bisa selamat. Pemuda itu menggunakan sisa tenaganya untuk mencapai sebuah pulau kecil. Ia pun membuat pondok di situ. Pulau itu memiliki banyak buah sehingga ia bisa makan sepuasnya.
Keesokan harinya, setelah ia pulang dari perburuannya mencari makanan, ia menemukan pondok yang dibuatnya dengan susah payah terbakar.
Ia menangis tersedu-sedu. “Tuhan, apa salahku? Mengapa hal ini harus kualami? Lebih baik aku ikut mati dengan para pemabuk lain di kapal feri itu.”
Beberapa jam kemudian, sebuah tim penyelamat datang dan membawanya pulang ke rumahnya.
Dengan heran ia bertanya, “Bagaimana kalian semua bisa tahu saya ada di sana tadi?”
“Oh, itu mudah, anak muda.” Kapten tim penyelamat tersenyum. “Kami melihat sinyal asap yang kaubuat.”
Kisah 2
Boneka Domba Mary
Mary mempunyai sebuah boneka domba yang sangat disayanginya. Sudah tiga tahun ia memilikinya. Meski bonekanya sudah rusak di sana-sini karena kadang Mary kurang hati-hati saat mencucinya, ia tetap menyayangi boneka tersebut.
Suatu ketika ia tinggal di rumah neneknya. Neneknya melihat boneka itu dan berkata, “Mary? Bolehkah Nenek meminjamnya sebentar?”
Mary memeluk bonekanya erat-erat. “Untuk apa, Nek?”
“Percaya saja pada Nenek.” Neneknya tersenyum.
Dengan berat hati Mary memberikannya.
Sang nenek tersenyum dan masuk ke ruangan jahitnya. Setelah beberapa lama akhirnya dia keluar juga, mendapati Mary sedang menonton sebuah acara film.
“Mary, ini bonekamu.” Neneknya memberikan boneka itu.
Mary menatap boneka itu dengan kagum. Bagian-bagian yang sobek sudah dijahit. Sekarang boneka domba itu sudah dipasangi pita dan aksesoris lucu lainnya. Ia memeluk neneknya. “Terima kasih, Nenek.”
Kisah 3
Prom Night
Ana berjalan menuju pesta prom sekolahnya.
Ketika sudah setengah jalan, ia harus menerima kecelakaan bahwa kedua kakinya tersandung hingga ia tidak bisa pergi ke prom. Untungnya seorang temannya melihatnya dan membantunya berjalan pulang ke rumahnya.
Ana terlihat sangat kesal. “Apa Tuhan baik sehingga aku harus mengalami hal ini?”
“Dia pasti baik, Ana,” sahut temannya sambil tersenyum, “dia punya rencana, tapi kita tidak akan bisa menyelami jalan pikiran-Nya yang lebih rumit dari seluruh otak manusia digabung jadi satu.”
Emosi Ana mereda. “Kau benar.”
Temannya tadi tersenyum. “Mau kutemani di sini?”
“Memangnya kamu tidak mau ke pesta?” tanya Ana.
Temannya itu menggeleng. “Aku tidak bisa berdansa. Lagipula aku tidak mendapat undangan. Tapi tak apa. Toh aku juga tidak suka pesta yang didatangi banyak orang,” jelasnya sambil tersenyum.
Mereka pun memutuskan untuk mengobrol sepanjang sisa malam itu. Ketika sudah jam sepuluh temannya itu pamit pulang.
“Bisa ke sini lagi besok?” pinta Ana—mengingat besok libur hari besar nasional.
Temannya mengangguk dan berjalan ke luar rumah Ana.
***
Teman Ana menepati janjinya. Keduanya pun asyik mengobrol lagi keesokan harinya. Ana bersyukur, karena kalau kakinya tidak tersandung kemarin ia tidak akan bisa mendapatkan teman yang begitu baik padanya.
“Fen,” panggil Ana. “Aku penasaran, gimana ya prom kemarin malam?”
Fenny—temannya itu—mengangkat bahunya. “Mungkin, begitulah, semuanya berdansa ria dengan musik bervolume tinggi dan bunyi dentingan gelas koktail terdengar di mana-mana.”
Kemudian, suara sirene polisi terdengar. Fenny dan Ana yang cuuriga dengan suara itu segera menuruni tangga. Sebelum mereka mencapai lantai dasar, polisi sudah ada di ruang tamu. “Kamu yang namanya Ana?”
Ana mengangguk.
“Dan kamu Fenny?”
Fenny pun ikut mengangguk. “Ada apa, Pak?”
“Kami hanya ingin menyampaikan bahwa teman-teman kalian yang mengikuti prom kemarin malam tertangkap menyelundupkan narkoba. Boleh kami meminta saksi kalian soal teman-teman kalian ini?”
Seusai memberikan kesaksian pada polisi dan sedikit pembelaan, polisi pun berkata bahwa hukuman yang dijalani teman-teman mereka akan sedikit diringankan.
Seperginya para polisi, Ana menatap Fenny dan berkata, “Kamu memang benar. Tuhan selalu punya rencana. Aku bahkan tidak kepikiran bahwa Tuhan melakukan hal itu untuk melindungki kita.”
Fenny mengangguk dan tersenyum. “Percaya saja pada-Nya.”

Apapun yang terjadi dalam hidup kita,
Tuhan sudah siapkan rencana-Nya.
Kita tidak akan pernah tahu rencana-Nya,
Tapi kita hanya perlu percaya pada-Nya.
Tak jarang memang menyakitkan,
Tapi Tuhan tidak pernah menyiksa kita.
Percaya saja pada-Nya,
Karena ia punya rencana.

This entry was posted in Kisah Bijak. Bookmark the permalink.

6 Responses to Tuhan Punya Rencana (Kumpulan Kisah)

  1. Shania says:

    Inti ketiganya sma ya minnn, cm beda alur crtanya aja, God always gives the best🙂

  2. Joseph'ine says:

    dikstw blog ini ma natasya ..so blessed w/ this story …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s