Tidak Harus Dinikmati Hasilnya

Seorang kakek yang sudah lanjut usianya menyirami tanaman mangga yang ia tanam. Peluh keringat menetes mengaliri wajahnya. Beberapa tetangganya menatapnya heran dan seorang pemuda bertanya, “Kek, bukannya Kakek sudah tua? Mangga yang Kakek tanam kan belum tentu juga nanti Kakek nikmati sendiri hasilnya.”

Seorang anak kecil juga berkata dengan polosnya, “Kenapa Kakek tidak bersiap-siap menemui ajal Kakek?”

Sambil mengelap keringatnya sang kakek tersenyum dan menjelaskan, “Aku punya tiga cucu, dan tiga-tiganya suka mangga. Aku juga punya dua anak, keduanya pun juga suka mangga. Istriku yang lebih muda lima tahun dariku juga suka mangga. Memang, belum tentu aku menikmati hasilnya nanti, karena itu aku menanamnya bukan untukku sendiri, tapi untuk orang-orang yang kucintai; cucuku, istriku dan anakku. Dan juga kalian jika mangganya berlebih.”

Para tetangga pun menatap sang kakek kagum.

“Kami boleh membantu, Kek?” tanya seseorang.

Sang kakek tersenyum. “Jika kalian tidak keberatan.”

Para tetangga pun membantu kakek itu menanam mangganya. Beberapa hari kemudian, sang kakek pingsan karena kelelahan dan dibawa ke puskesmas terdekat oleh para tetangga. Sayangnya, ia tidak sempat tertolong. Para keluarga kakek itupun datang mendengar berita kematian orang yang sangat mereka sayangi.

Kakek itu dikuburkan di dekat pohon-pohon mangga yang ia tanam.

Seorang tetangga pun menceritakan bagaimana kakek itu menanam semua mangga yang ada dengan kesungguhan hati. Semua anggota keluarga terenyuh mendengarnya, termasuk sang istri yang tidak ada di dekat suaminya di hari-hari terakhir hidupnya.

Apa yang kita lakukan hari ini tidak harus dinikmati diri kita sendiri, karena tugas kita menabur.

This entry was posted in Kisah Bijak. Bookmark the permalink.

2 Responses to Tidak Harus Dinikmati Hasilnya

  1. Shania says:

    Setuju sama inti cerita pendek ini, kalo kita tugasnya ” nabur ” benih aja sisa yg metik sapa itu urusan Tuhan pokoknya klo kita baik naburnya nuainya jg baik nuai buruk taburnya jg buruk🙂

    • Iya🙂 Tuhanlah yang menentukan apa yang kita taburkan akan kita tuai saat itu juga, persis di cerita ini. Kalaupun orang lain yang menerima hasilnya, seharusnya kita berbahagia karena hasil menabur kita buahnya bisa dinikmati dan menjadi berkat bagi orang lain. Pokoknya terus tabur benih yang baik dengan tulus, niscaya kita tak kan menyesalinya.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s